Fiksi semata.

satu lagi sampah di dunia maya. kata, kata, kata. semua cuma kata.

 
...

Sebenarnya telah kularung luka lara itu sekian purnama silam begitu kau meninggalkanku. Toh tak usai juga cerita pedih ini meski telah kutampik semua tentangmu, gerimis pun kujauhi karena itu membawaku kepadamu.

Kuziarahi kau tiap bulan mati, meski kau belum mati. Di alam pikirku telah tiada yang namanya kamu, walau kamu masih bergentayangan lewat berbagai saluran melimbahi mimpiku. Timbul tenggelam kamu, terkadang 'ku bersiteguh untuk tidak menjulurkan tangan menolongmu, namun cinta itu! Berlebih-lebih memang cintaku, sampai benarnya tak rela aku untuk menyalibmu.

Dunia tak tahu dan tak peduli betapa aku mencintaimu. Karena siapakah aku, siapakah kamu. Setitik noda yang terlihat biasa di antara milyaran debu mengada. Ketika sinar mentari pagi unjuk gigi, ketika itu pula terbang debu-debu cintaku, sebegitu banyaknya!

Lalu apakah cinta itu bila tak terbalas? Adakah cinta yang bertepuk satu tangan, meski kata orang bijak cinta itu memang jalan satu arah tak mengharap balas.

Cintaku ini nelangsa. Tapi tak hendak aku pamerkan pada dunia. Biar itu kerjaan orang-orang di luar sana, yang bernasib sama denganku: tertolak cinta olehmu.

...


("Meara", 2006)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?