Fiksi semata.

satu lagi sampah di dunia maya. kata, kata, kata. semua cuma kata.

 
...

Sesungguhnya semua orang bercerita tentang hal yang sama, bukan? Tidak ada sesuatu yang baru di muka bumi ini. Lalu kamu meludah dan berteriak entah pada senja atau pasir atau langit yang memerahjingga: "Anjiiiiiiinnnngggg!!!!"

Mengapa anjing? Kamu terkekeh, mengaku tidak fasih memaki dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa asing manapun yang keren kedengarannya. Padahal kamu penikmat film Hollywood yang bertaburan kata f**k pun pada dialog yang tidak penting. Bagaimana bisa kamu mengaku tidak fasih memaki dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa asing manapun yang keren kedengarannya?

Tapi mengapa anjing? Siapa yang kamu anjingkan?

"Semuanya." Seteguk bir. "Kamu, dia, cinta, dunia."

Aku = anjing? Dia juga? Dan bila cinta dan dunia sebentukrupa dengan anjing, lalu kamu siapa?

"Mbahnya anjing." Seteguk bir lagi untuk bikin pipimu memerah tak kalah dengan semburat senja. "Lalu mengapa kalau anjing atau tidak anjing? Apakah menjadi anjing berarti turun derajat tak lagi seagung manusia? Ohya, kau dan ideologi turunanmu bilang manusia adalah makhluk yang paling mulia, yah. Ah, bosan aku dengan kategorisasi dan diferensiasi ala kamu itu! Tak ada yang paling mulia bila tak ada yang jelata. Pada intinya kita sama, hanya berbeda kulit karena ditakdirkan berbeda peran meski berlakon pada satu masa yang sama. Tapi itu anjing, siapa tahu di masa lalu adalah pangeran bagimu? Dan aku, mbahnya anjing, kelak terlahir sebagai juruselamat mereka-mereka yang mengaku mulia namun toh masih butuh uluran tangan penyelamat dari api neraka?"

Kamu meludah. "Eh, menurutmu, kelahiran kembali itu adakah? Surga-neraka itu, adakah?"

***
("Pikiran-Pikiran Yang Tak Penting Adanya", 2002-2006)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?