...
Ada yang merongga di dadanya. Ruang kosong hampa yang mustinya dihuni satu abstraksi bernama: hati.
Ia tidak lagi punya hati.
Baginya, tak ada sesuatu pun yang bisa menggugah rasa empati maupun simpati. Ia telah kenyang dengan penampakan derita, tak cuma di layar kaca namun juga di dunia sekelilingnya. Baginya, semua adalah biasa-biasa saja.
Gerombolan pengemis di simpang jalan? Suami yang baru menjadi ayah dan terhantam badai pemutusan hubungan kerja? Waria kesepian di dini hari karena pelanggan semua pergi setelah ia menua? Para pensiunan yang mengantri panjang hanya untuk menerima selembar lima puluhribuan karena terpotong angsuran pinjaman? Anak-anak kecil yang menangis karena lapar? Sepiring salad bertajuk indah dan cantik penampilannya, yang ia bayangkan nilai rupiahnya sama dengan beaya asuh selama sebulan bila ia ikut gerakan orangtua asuh?
Sebut seribu macam hal tragis dan menyedihkan yang bisa terjadi di muka bumi, dan reaksinya hanyalah: memang begitulah adanya. Reaksi yang kering dari rasa iba, tanpa rasa turut iba.
Ia tahu, ia tak lagi punya hati. Pun untuk dirinya sendiri.
... ("Lelaki Tanpa Hati", 2006)
