Fiksi semata.

satu lagi sampah di dunia maya. kata, kata, kata. semua cuma kata.

 
...


"Ini saya temukan di laci meja dia. Saya pikir saya wajib meneruskannya pada Anda."

Merry penuh tanya menerima ampop coklat yang lumayan tebal itu. Ada namanya tertera di sana. Alamat rumahnya. Dan juga alasan jasa Titipan Kilat mengembalikan paket itu ke pengirimnya: "nama tujuan tak dikenal".

"Anda tahu, sewaktu tahu paket itu tak sampai ke tangan Anda, dia terpukul amat sangat. Berhari-hari dia berpikir mengapa Anda begitu jahat padanya. Padahal dia tulus mengirimkan paket itu untuk Anda. Dan semuanya sudah tertulis benar bukan, alamat, nama lengkap. Geez, dia bahkan menuliskan nama asli Anda ketimbang nama yang popular Anda sandang sekarang ini."

Jeda.

"Mungkin Anda juga tahu, sampai akhir hayatnya dia begitu ingin berjumpa dengan Anda. Tapi Anda tak memberi kesempatan. Tanpa alasan, begitu dia mengadu."

Dan sekarang semua sudah terlambat. Bukankah selayaknya cerita roman di mana kata cinta sering terlambat diucapkan, penyesalan selalu muncul ketika tahu perbuatan masa lalu adalah berlebihan, kejam dan nihil pembenaran.

"Dan Anda layak tahu sekarang, sesungguhnya sedari lama telah mati cintanya pada Anda," pria berkacamata itu seperti tak puas menista Merry yang seperti orang lumpuh tak mampu bereaksi. "Tapi Anda telah meragukan ketulusannya untuk kembali menjadi teman Anda, Anda pikir dia masih memelihara cintanya? Keraguan Anda malah jadi pupuk yang membuatnya berpikir: jangan-jangan aku memang belum berhenti mencintainya. Keraguan Anda menularinya, ia kembali meragu, meracuni dirinya dengan ilusi, perlahan-lahan ia mati busuk di dalam, rongga dalam jiwanya kembali menyeruak memakan tubuh dan jiwa raganya."

"Anda puas sekarang???" Gelegar amarah tertahan dalam suara pria itu membangunkan Merry dari lamunan singkatnya.


***

("In Memoriam: Gabriel Mahalaya", 2007)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?